Sebelumnya, euforia sempat melanda seantero Inggris. The Three Lions digadang-gadang sebagai calon kuat juara dunia setelah dengan perkasa melibas Kroasia yang digawangi sang maestro Luka Modric, menunjukkan performa menyerang nan impresif. Ekspektasi membumbung tinggi, harapan tercurah bagi skuad Gareth Southgate untuk membawa pulang trofi. Namun, apa yang tersaji kini? Sebuah realita pahit, penampilan yang jauh panggang dari api, membuat kita bertanya-tanya: ke manakah passion, determinasi, dan gairah yang sempat mereka tunjukkan?
Laga kontra Ghana, yang berujung skor kacamata tanpa gol, adalah puncak kekecewaan. Seolah-olah kita melihat kembali Inggris yang familiar: tim yang bermain tanpa greget, minim kreativitas, dan terlalu nyaman dengan status quo. Kita tidak melihat lagi umpan-umpan terobosan mematikan, atau tendangan keras dari luar kotak penalti yang mengancam. Ini adalah Inggris yang 'aman', yang bermain setengah hati, enggan mengambil risiko. Sebuah tontonan yang jauh dari kata 'menarik', bahkan mungkin yang paling membosankan sejauh ini di gelaran akbar Piala Dunia.
Asa para penggemar yang sempat menjulang tinggi kini kembali terhempas ke bumi, serupa dengan tradisi Inggris lainnya. Dari secangkir teh di halaman hingga keluhan tentang cuaca, segala hal yang familiar tentang Inggris kembali hadir, termasuk penampilan yang loyo di lapangan hijau. Jadi, selamat datang kembali, Inggris! Kami sudah menunggumu untuk menyajikan drama tanpa gol dan performa yang membuat mata terkantuk-kantuk. Sebuah 'kembali ke rumah' yang sayangnya, sama sekali tidak kita harapkan di panggung sebesar dan semegah Piala Dunia!